Jumat, 19 November 2010

Jadilah Seperti Pohon Kelapa

Posted by Asep Komaru 19.09.00, under | No comments

*Tunas Kelapa yang masih dalam keadaan tumbuh di sebut "CIKAL",Dari istilah "CIKAL BAKAL" di INDONESIA berarti : Penduduk asli yang baru untuk generasi depan. jadi kita harus lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya.tapi bukan untuk menyaingi generasi yang sudah ada.tetapi untuk merubah yang ada menjadi lebih baik.
*Buah Kelapa Dapat Bertahan dimana saja dia berada.jadi kita harus bisa bertahan hidup dalam kondisi apapun dan kita harus bersyukur dengan apa yang di berikan ALLAH.Dan harus besar tekad dalam menghadapi sebuah tantangan hidup yang memang susah.
*Pohon Kelapa dapat tumbuh di mana saja sebagai bukti besarnya daya upayanya untuk hidup dalam lingkungan yang ada. jadi kita harus dapat beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat yang ada di sekelilingnya.
*Pohon kelapa Tumbuh menjulang lurus ke atas dan merupakan salah satu pohon terbesar di INDONESIA.Jadi kita harus menggantungkan cita-cita kita setinggi langit tanpa hanya bermimpi.kita harus berusaha untuk menggapai impian itu.
*Pohon Kelapa adalah pohon yang serba guna.jadi kita harus Menjadi manusia yang berguna bagi agama,nusa,bangsa,dan negara.

By : Asep vaseppi

Rabu, 17 November 2010

Cara Pasang Tulsan Terbalik

Posted by Asep Komaru 16.40.00, under | No comments

ʞ!Ⴈɐqɹәʇ uɐs!Ⴈnʇ ʇɐnqɯәɯ - ɯoɔ˙ʇodsƃoႨq !p s!ʇɐɹƃ ƃoႨq ʇɐnq uɐnpuɐd Pernahkah anda melihat tulisan di atas ?Bisakah anda membaca tulisan tersebut ? Apa anda harus membalik monitor anda untuk membaca tulisan tersebut he…he…he...Ini adalah upside down writing (tulisan terbalik) dari sherv.net yang menyediakan fasilitas membalik tulisan yang kita buat. Dengan hanya mengetikan tulisan pada halaman yang di sediakan oleh sherv.net kita dengan mudah mendapatkan hasil tulisan terbalik yang bisa digunakan pada facebook, blog ataupun web.Bagaimana cara membuatnya ?Silahkan kunjungi / klik sherv.net

Minggu, 14 November 2010

Sejarah Taj-Mahal

Posted by Asep Komaru 20.44.00, under | 1 comment


Agra - Cinta ternyata berhasil menggerakkan hati seorang sultan dari India untuk membangun monumen yang diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Bangunan pertanda cinta itu adalah Taj Mahal.

Jika membicarakan cinta, maka ingatan akan melayang ke Taj Mahal. Monumen peringatan cinta yang dipersembahkan Shah Jahan, Sultan Mughal kelima, kepada istrinya Mumtaz Mahal. Sebelum meninggal akibat melahirkan anak mereka yang ke-14 di tahun 1630, Mumtaz meminta sang suami tercinta untuk mengabadikan cinta mereka dengan mendirikan sebuah monumen. Permintaan wanita yang sangat dicintainya tersebut dimulai setahun setelahnya.

Di tepi Sungai Yamuna, tepat di pusat kota dari Kesultanan Mughal di Agra, sekitar 204 km di sebelah Selatan New Delhi, India, mulailah konstruksi musoleum megah ini didirikan. Dengan menghimpun sekitar 20.000 pekerja dan ahli-ahli seni terkemuka, mereka bekerja selama 22 tahun untuk membangun monumen ini.

Dengan bantuan 1.000 gajah yang membawa material dari seluruh penjuru India ke Agra, akhirnya monumen ini selesai di tahun 1653. Pembuatan proyek megah ini juga tak terlepas dari jasa Ismail Afandi dari Turki dan Ustad Isa dari Persia yang berperan sebagai arsitek, Qazim Khan dari Lahore yang mendesain emas pada atap kubah, Chiranji Lal yang membuat pola mosaik dari Delhi, Amanat Khan dari Persia sebagai ahli kaligrafi, dan ahli pemotong batu dari Baluchistan, Amir Ali.

Dulu Shah Jahan dan keluarga kesultanan selalu memakai kapal dari Benteng Agra jika ingin melihat pembuatan monumen ini atau menjenguk makam sang istri, namun khusus untuk masyarakat umum, perjalanan ke Taj Mahal dimulai dari pintu gerbang yang dibuat sekitar 275 m jauhnya dari musoleum. Pintu gerbang besar yang lebarnya sekitar 50 m ini dibuat dari batu pasir merah dengan menara bersegi delapan di setiap sudutnya. Pada gerbang ini terdapat pintu yang sangat berat terbuat dari delapan jenis logam.

Setelah melewati pintu gerbang, kita akan melewati taman dengan desain campuran Moghul, Arab, dan Persia yang tanaman-tanamannya tersusun secara geometris. Di tengah-tengahnya terdapat kolam air sepanjang jalan menuju bangunan Taj Mahal menyempurnakan keindahan pemandangan.

Dari kejauhan tampaklah Taj Mahal, sebuah bangunan dari batu pualam putih yang berdiri megah dengan dua menara di masing-masing sisi. Tampak pula sebuah masjid besar berwarna merah di sisi Barat bangunan musoleum ini. Sedangkan di sisi Timur terdapat bangunan lain yang serupa dengan masjid, dinamakan The Jawab. Entah apa fungsi dari bangunan ini. Namun, konon bangunan ini sengaja didirikan sultan untuk menyeimbangkan bangunan masjid di sisi Barat sehingga terlihat lebih simetri.

Taj Mahal tampak amat anggun dan menarik perhatian siapa pun yang berada di kompleks yang luas ini. Tinggi bangunan berkubah besar ini sekitar 55 m, sedangkan tinggi keempat menaranya mencapai 76 m. Marmer yang digunakan sangat tinggi mutunya, sehingga putih tampak mengilat bak kaca. Sedangkan makam Shah Jahan dan istrinya, Mumtaz Mahal terdapat di tengah-tengah bangunan dalam ruang berbentuk oktagonal. Kedua makam ini diletakkan bersisian dalam pagar berukir yang indah, menunjukkan seakan-akan cinta mereka abadi dunia-akhirat

Jumat, 12 November 2010

Ramalan JayaBaya

Posted by Asep Komaru 19.42.00, under | No comments

  1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  2. Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.
  3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berlayar di ruang angkasa.
  4. Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan lubuk.
  5. Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.
  6. Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
  7. Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.
  8. Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.
  9. Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.
  10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.
  11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
  12. Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.
  13. Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
  14. Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.
  15. Ora ngendahake hukum Allah— Tak peduli akan hukum Allah.
  16. Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.
  17. Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.
  18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.
  19. Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.
  20. Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.
  21. Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.
  22. Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.
  23. Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.
  24. Nantang bapa— Menantang ayah.
  25. Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.
  26. Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.
  27. Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.
  28. Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.
  29. Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil
  30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil
  31. Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil
  32. Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.
  33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justru malu.
  34. Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.
  35. Wegah nyambut gawe — Malas menunaikan kerja.
  36. Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.
  37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
  38. Wong bener thenger-thenger — Si benar termangu-mangu.
  39. Wong salah bungah — Si salah gembira ria.
  40. Wong apik ditampik-tampik— Si baik ditolak ditampik.
  41. Wong jahat munggah pangkat— Si jahat naik pangkat.
  42. Wong agung kasinggung— Yang mulia dilecehkan
  43. Wong ala kapuja— Yang jahat dipuji-puji.
  44. Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.
  45. Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanan
  46. Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.
  47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.
  48. Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.
  49. Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.
  50. Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar pasangan.
  51. Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.
  52. Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.
  53. Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
  54. Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.
  55. Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.
  56. Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.
  57. Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.
  58. Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.
  59. Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.
  60. Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.
  61. Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.
  62. Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.
  63. Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.
  64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapaknya.
  65. Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.
  66. Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.
  67. Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.
  68. Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.
  69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Di mana-mana perempuan lacur
  70. Akeh laknat— Banyak kutukan
  71. Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.
  72. Anak mangan bapak—Anak makan bapak.
  73. Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.
  74. Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.
  75. Guru disatru—Guru dimusuhi.
  76. Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.
  77. Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.
  78. Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.
  79. Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.
  80. Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.
  81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
  82. Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.
  83. Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.
  84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
  85. Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.
  86. Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.
  87. Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.
  88. Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.
  89. Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.
  90. Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.
  91. Sing curang garang— Yang curang berkuasa.
  92. Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.
  93. Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.
  94. Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.
  95. Akeh barang haram—Banyak barang haram.
  96. Akeh anak haram—Banyak anak haram.
  97. Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.
  98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.
  99. Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.
  100. Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.
  101. Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.
  102. Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.
  103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
  104. Sing kebat kliwat—Siapa tangkas lepas.
  105. Sing telah sambat—Siapa terlanjur menggerutu.
  106. Sing gedhe kesasar—Si besar tersasar.
  107. Sing cilik kepleset—Si kecil terpeleset.
  108. Sing anggak ketunggak—Si congkak terbentur.
  109. Sing wedi mati—Si takut mati.
  110. Sing nekat mbrekat—Si nekat mendapat berkat.
  111. Sing jerih ketindhih—Si hati kecil tertindih
  112. Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur
  113. Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.
  114. Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.
  115. Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.
  116. Wong tani ditaleni—Si tani diikat.
  117. Wong dora ura-ura—Si bohong menyanyi-nyanyi
  118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
  119. Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.
  120. Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.
  121. Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.
  122. Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.
  123. Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.
  124. Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.
  125. Anak lali bapak—Anak lupa bapa.
  126. Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.
  127. Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.
  128. Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.
  129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.
  130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
  131. Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.
  132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.
  133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
  134. Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.
  135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
  136. Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.
  137. Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.
  138. Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.
  139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.
  140. Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.
  141. Wong bener saya thenger-thenger—Si benar makin tertegun.
  142. Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.
  143. Akeh bandha musna ora karuan lungane—Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe Banyak harta hilang entah ke mana, Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
  144. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.
  145. Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
  146. Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.
  147. Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.
  148. Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.
  149. Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.
  150. Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.
  151. Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.
  152. Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.
  153. Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
  154. Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.
  155. Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.
  156. Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.
  157. Bandha dadi memala—Hartabenda menjadi penyakit
  158. Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.
  159. Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang
  160. Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.
  161. Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.
  162. Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi
  163. Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci
  164. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
  165. Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.
  166. Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri duduk berperut gendut.
  167. Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.
  168. Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.
  169. Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.
  170. Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.
  171. Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh
  172. Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.
  173. Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.
  174. Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.
  175. Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.
  176. Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.
  177. Agama ditantang—Agama ditantang.
  178. Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.
  179. Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.
  180. Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.
  181. Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.
  182. Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan
  183. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
  184. Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.
  185. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
  186. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
  187. Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.
  188. Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.
  189. Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.
  190. Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.
  191. Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.
  192. Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.
  193. Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga
  194. Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.
  195. Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.
  196. Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.
  197. Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.
  198. Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.
  199. Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.
  200. Buruh mangluh—Buruh menangis.
  201. Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.
  202. Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.
  203. Senenge wong jahat—Berbahagialah si jahat.
  204. Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.
  205. Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.
  206. Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.
  207. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
  208. Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal separo.
  209. Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.
  210. Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
  211. Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.
  212. Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.
  213. Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.
  214. Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.
  215. Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka—Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

Selasa, 09 November 2010

Misteri Angka 13

Posted by Asep Komaru 19.39.00, under | No comments

Di seantero dunia terdapat bermacam-macam kepercayaan, mitos, dan legenda, yang tidak terhitung banyaknya. Bagi kaum rasionalis, kepercayaan-kepercayaan orang-orang tua ini seharusnya ikut mati sejalan dengan modernisasi yang merambah seluruh sisi kehidupan manusia. Namun demikiankah yang terjadi? Ternyata tidak.
Di dalam tatanan masyarakat modern, kepercayaan-kepercayaan tahayul ini ternyata tetap eksis dan bahkan berkembang dan merasuk ke dalam banyak segi kehidupan masyarakatnya. Kepercayaan-kepercayaan ini bahkan ikut mewarnai arsitektural kota dan juga gedung-gedung pencakar langit.

Sebagai contoh kecil, di berbagai gedung tinggi di China, tidak ada yang namanya lantai 13 dan 14. Menurut kepercayaan mereka, kedua angka tersebut tidak membawa hoki. Di Barat, angka 13 juga dianggap angka sial. Demikian pula di berbagai belahan dunia lainnya. Kalau kita perhatikan nomor-nomor di dalam lift gedung-gedung tinggi dunia, Anda tidak akan jumpai lantai 13. Biasanya, setelah angka 12 maka langsung ‘loncat’ ke angka 14. Atau dari angka 12 maka 12a dulu baru 14. Fenomena ini terdapat di banyak negara dunia, termasuk Indonesia.

Mengapa angka 13 dianggap angka yang membawa kekurang-beruntungan? Sebenarnya, kepecayaan tahayul dan aneka mitos yang ada berasal dari pengetahuan kuno bernama Kabbalah. Kabalah merupakan sebuah ajaran mistis kuno, yang telah dirapalkan oleh Dewan Penyihir tertinggi rezim Fir’aun yang kemudian diteruskan oleh para penyihir, pesulap, peramal, paranormal, dan sebagainya—terlebih oleh kaum Zionis-Yahudi yang kemudian mengangkatnya menjadi satu gerakan politis—dan sekarang ini, ajaran Kabbalah telah menjadi tren baru di kalangan selebritis dunia.

Bangsa Yahudi sejak dahulu merupakan kaum yang secara ketat memelihara Kabbalah. Di Marseilles, Perancis Selatan, bangsa Yahudi ini membukukan ajaran Kabbalah yang sebelumnya hanya diturunkan lewat lisan dan secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga dikenal sebagai kaum yang gemar mengutak-atik angka-angka (numerologi), sehingga mereka dikenal pula sebagai sebagai kaum Geometrian.

Menurut mereka, angka 13 merupakan salah satu angka suci yang mengandung berbagai daya magis dan sisi religius, bersama-sama dengan angka 11 dan 666. Sebab itu, dalam berbagai simbol terkait Kabbalisme, mereka selalu menyusupkan unsur angka 13 ke dalamnya. Kartu Tarot misalnya, itu jumlahnya 13. Juga Kartu Remi, jumlahnya 13 (As, 2-9, Jack, Queen, King).

Penyisipan simbol angka 13 terbesar sepanjang sejarah manusia dilakukan kaum ini ke dalam lambang negara Amerika Serikat. The Seal of United States of America yang terdiri dari dua sisi (Burung Elang dan Piramida Illuminati) sarat dengan angka 13.

Inilah buktinya:

-13 bintang di atas kepala Elang membentuk Bintang David.
-13 garis di perisai atau tameng burung.
-13 daun zaitun di kaki kanan burung.
-13 butir zaitun yang tersembul di sela-sela daun zaitun.
-13 anak panah.
-13 bulu di ujung anak panah.
-13 huruf yang membentuk kalimat ‘Annuit Coeptis’
-13 huruf yang membentuk kalimat ‘E Pluribus Unum’
-13 lapisan batu yang membentuk piramida.
-13 X 9 titik yang mengitari Bintang David di atas kepala Elang.

Selain menyisipkan angka 13 ke dalam lambang negara, logo-logo perusahaan besar Amerika Serikat juga demikian seperti logo McDonalds, Arbyss, Startrek. Com, Westel, dan sebagainya. Angka 13 bisa dilihat jika logo-logo ini diputar secara vertikal. Demikian pula, markas besar Micosoft disebut sebagai The Double Thirteen atau Double-13, sesuai dengan logo Microsoft yang dibuat menyerupai sebuah jendela (Windows), padahal sesungguhnya itu merupakan angka 1313.

Uniknya, walau angka 13 bertebaran dalam berbagai rupa, bangsa Amerika rupa-rupanya juga menganggap angka 13 sebagai angka yang harus dihindari. Bangunan-bangunan tinggi di Amerika jarang yang menggunakan angka 13 sebagai angka lantainya. Bahkan dalam kandang-kandang kuda pacuan demikian pula adanya, dari kandang bernomor 12, lalu 12a, langsung ke nomor 14. Tidak ada angka 13.

Kaum Kabbalis sangat mengagungkan angka 13, selain tentu saja angka-angka lainnya seperti angka 11 dan 666. Angka ini dipakai dalam berbagai ritual setan mereka. Bahkan simbol Baphomet atau Kepala Kambing Mendez (Mendez Goat) pun dihiasi simbol 13. Itulah sebabnya angka 13 dianggap sebagai angka sial karena menjadi bagian utama dari ritual setan.

Friday the 13th adalah Hari sial?

Berdasarkan hasil penelitian dari Dr Donald Dossey seorang psikoterapi khusus dlm bidang “phobia” = takut dlm bhs Yunani, di AS saja ada lebih dari 21 juta orang yang memiliki penyakit “paraskevidekatriap hobia” atau rasa takut akan hari Jumat tgl 13. Dan menurut laporan dari “The Stress Management Center and
Phobia Institute” di Asheville – AS, tenyata setiap hari Jumat tgl 13, ekonomi Amerika mengalami kerugian antara 800 s/d 900 juta AS$, karena banyak orang yg ogah travelling, bekerja ataupun melakukan
kegiatan bisnis apapun juga.

Kenapa angka 13 adalah angka sial ?
Sedangkan kepercayaan 13 sebagai nomor sial itu timbulnya dari orang Kristen, karena Yudas menduduki kursi yg 13 dan ia menjual Yesus tepat jam 13.00. Disamping itu angka tsb berada satu poin diatas angka sempurna 12 atau melebihi kekuatan puncak, maka dgn mana otomatis akan membawa sial, maklum murid Yesus terdiri dari 12 orang, suku Israel 12, siang-malam 12 jam, bulan 12, dewa Olympus 12.

Bila numerologi Barat memandang angka 13 sebagai angka sial, hal yang sama berlaku pula di masyarakat Cina. Namun mungkin dilihat dari sudut pandang yang berbeda. “Kalau dijumlah 1+3 hasilnya 4. Dan angka ‘empat’ sendiri dalam bahasa Cina bila diucapkan dengan intonasi berbeda (sie) bisa memberikan 2 makna yaitu empat dan mati = sial!

Bahkan kalau dihitung tgl 13 Oktober 2006 ini adalah benar-benar angka sial tulen cobalah Anda jumlahkan: 13-10-2006 = 1+3+1+0+2+6 = 13 (tigabelas lagi)

Dan apabila nama Anda terdiri dari 13 abjad maka ini harus hati2 sebab para pembunuh sadis memiliki nama yg terdiri dari 13 abjad lihat saja: Jack the Rippe, Charles Manson, Theodore Bundy dan Albert De Salvo.

Trikaideka-phobia , takut akan angka 13, sedemikian hebatnya sehingga kalau anda makan malam di Hotel berbintang Savoy di London, dan kebetulan anda datang rame2 ber 13 maka si Manager Hotel Mr Paul, akan cepat2 mengeluarkan mascot dua kucing hitam yg didudukan di kursi khusus , untuk menemani anda sekalian dimeja makan! Biar yg makan jadi 15, kalau tidak, “It is believed that one of the 13 diners will die within a year. Begitu wanti2 sang manager.

Berapa banyak hotel atau permukiman yang pantang mencantumkan angka 13 untuk nomor lantai, kamar, maupun rumah. Lotere di Itali, Perancis tidak ada nomer 13 nya. Begitu juga tidak ada nama jalan di Amerika yang menggunakan 13th Street atau 13th Avenue .

Darimana timbulnya kepercayaan ini? Diduga, Pythagoras – figur seniman, filsuf, dan guru dari abad 6 SM, secara tak langsung mendorong para pengikutnya melahirkan pemahaman baru, numerologi.

Apakah disemua Negara Eropa mereka takut akan Hari Jumat tgl 13 ? Tidak sebab di negara-negara Amerika Latin, di Yunani maupun di Spanyol hari “Selasa” tgl 13 adalah hari sial, sehingga ada pepatah “En martes, ni te cases ni te embarques” = di hari Selasa janganlah melakukan perkimpoian ataupun perjalanan.

Sedangkan di Italy hari sialnya adalah hari Jumat tgl 17.

Powered By Blogger